Ini permintaan secara tidak langsung
Sejak aku bisa main piano waktu umur 5 tahun-an, sampai sekarang aku belum punya piano sungguhan, Aku hanya punya piano elektrik, yang tutsnya ringan, dan karena sudah lama sehingga kadang-kadang tuts nya ada yg tidak bunyi.
Sebenarnya aku jengkel juga sama orang yang les piano, punya piano, tapi itu hanya dibuat sebagai 'pajangan'. Benci banget! Disatu sisi mereka tidak serius tapi punya piano, disisi yang lain, aku yang serius tapi aku nggak punya piano. Jujur aja, aku IRI melihat mereka! IRI!
Aku pengen dateng pada mereka dan bilang, "Kalo kamu nggak serius, ya udah, piano nya buat aku aja." Aku sedih kalau melihat piano itu tidak dimainkan, berdebu, suaranya berat kaya suara orang yg baru bangun tidur. Rasanya piano itu 'menangis'. Dan aku ingin memarahi orang yg punya piano tapi tidak dihargai.
Dulu saat aku masih les piano, dan saat ada lomba piano, selalu ada komentar, permainanmu kurang lancar. Itu karena aku terbiasa memakai piano yang ada dirumah, yang tutsnya ringan, padahal waktu lomba itu memakai GRAND PIANO, yang DIJAMIN dan DIPASTIKAN lebih berat daripada tuts piano yg dirumah.
Bagiku, itu adalah suatu penghambat untuk diriku sendiri. Bagaimana tidak, aku lomba TIDAK PERNAH juara dlm 3 besar! Meskipun pernah itu hanya 2x! Yang 1 grup ensemble, yang 1nya lagi lomba dari guru les ku sendiri. Kalau di ajang-ajang lain, seperti lomba dari sekolah musik, paling banter aku juara Harapan I dan kadang juga nggak juara!
Sebenarnya aku harus bersyukur, karena banyak anak yang tidak juara. Tapi aku nggak puas dengan hasil segitu. Saat latihan untuk lomba, aku niat. Aku berharap bisa juara diatas aku juara biasanya, dan berharap ada orang atau siapa yang melihat, tertarik untuk melatihku sehingga kelak menjadi seorang pianist handal. Aku itu IRI dengan pianist hebat sekarang. Mereka itu dari kecil sudah di set orang tuanya kelak akan menjadi THE REAL PIANIST.. Jadi waktu kecil sudah dileskan ke guru yang nggak tanggung-tanggung, seorang profesor (seperti Lang Lang).
Aku?
Dimasukkan ke sekolah musik (yang katanya bagus) masuk dalam kelompok les grup. Tapi ternyata hasilnya nihil. Entah aku yang bodoh (karena memang GURUNYA SENDIRI YANG BILANG!), atau emang gurunya yang nggak bisa ngajar. Waktu itu aku seret prestasi. Sampai akhirnya aku dileskan juga ke seorang guru privat. Nah dari sini aku bisa berkembang. Sejak dileskan di guru ini, prestasiku meningkat. Aku sering diikutkan lomba piano, resmi maupun tidak resmi. Kadang menang, kadang kalah. Itu sudah biasa. Dari waktu dulu aku yang bodoh parah di les musik itu, akhirnya aku menjadi orang yang pintar di les musik itu. Sampai akhirnya aku keluar dari tempat les musik di sekolah musik itu dengan hasil akhir ujian rata2 A!
Woow, gurunya yang dulu bilang aku BODOH, TOLOL dsb bilang kalau bener-bener rugi kalau aku keluar. Tapi akhirnya aku memutuskan keluar dan hanya les di guru privat yang membuatku berkembang. Tapi akhirnya aku juga keluar karena aku mulai bosan, dan ada masalah ekonomi.
Aku sempat tidak bermain piano selama 1 tahun. Aku berpindah ke gitar. Tapi aku tetap memainkannya, meskipun itu hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali.
Suatu saat aku mulai sadar, apakah karir di masa depanku nanti?
Aku tidak menonjol dibidang akademis. Nilaiku tidak bagus-bagus amat, dan tidak jelek-jelek amat. Rata-rata lah. Dan aku tidak ada ketertarikan dalam pekerjaan yang memanfaatkan akademis.
Aku berpikir untuk kembali serius di piano, saat aku umur 14 tahun. Satu usia yang BENAR BENAR TELAT untuk menjadi seorang pianist sukses seperti Lang Lang atau Wang Yuja, yg sejak kecil sudah sukses. Aku ingin kuliah musik, mendapatkan beasiswa musik (music scholarship), tapi persyaratan yang diajukan, seperti grade minimal untuk praktek dan teori yang aku tidak mencukupi, dan susah untuk mengejarnya. Music Scholarship meminta grade praktek min. ABRSM grade 5 ato 6, theory min.5
aku masih grade 2 dan belum sama sekali mencicipi yang namanya ujian theory
Sempat sedih juga aku. Apakah nanti masa depanku cerah?
Aku diharapkan orang tuaku untuk menjadi orang yang sukses di bidang akademis.
Tapi aku yang nggak mampu, aku nggak bisa dan itu bukan aliran ku. Aku bisa di bidang non akademis, terutama musik! Sesuatu yang bertolak belakang inilah yang membuatku kacau!
Jika aku berpikir ini terus, aku selalu ingin menangis, bertanya pada TUHAN bagaimana masa depanku nanti.
Aku berharap, jika ada orang tua yang membaca ini,
"Mohon untuk benar-benar memikirkan masa depan anaknya, dan pastikan itu pas dan cocok dengan anaknya, dan kembangkan dari KECIL, jangan sampai nanti terjadi pertentangan dan akhirnya masa depan akan kelam, nggak jelas."
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

3 comments:
yo.. tata.. kamu punya blog toh..
hmm.. kurasa ga ada yg namanya telat untuk memulai sesuatu, apalagi kalo untuk melanjutkan :)
klo emang ga bisa les scara 'resmi', knp ga cari temen yg udah jago trus les ama dia?
klo ama temen kan bisa nyogok2x gt.. traktir aja tuh orang sbg bayaran ;p
hehehehe :) saran aja sih..
~haibara
thx ya atas comment nya.. ^^
Tidak ada kata terlambat..!!!!
saya aja mulai sentuh piano akustik umur 19 tahun, itu pun karena nekad dan bisa kuliah di ISI Jogja. jadi dapet fasilitas gitu, yang membuat saya bertahan adalah, CINTA pada musik itu sendiri, saya mencintai pekerjaan saya sebagai pianis, Composer & Arranger. Sampai saat ini saya terus meyakini apa yang saya kerjakan dan saya cintai, dia adalah MUSIK. Dan sampai saat ini saya menghidupi keluarga kecil saya (istri dan dua gadis kecil saya) dengan setia menjadi musisi.
Salam.
Post a Comment