[Dulu] Teman Baikku, Sekarang? ..[Part 1]..

Sunday, May 3, 2009
Aku mau cerita, ada 2 cerita sih..
Hmm,, yang mana dulu ya? Ya uda deh ikutin aja..

Aku punya seorang teman, kita uda kenal sebelum kita berdua sekolah, soalnya kita adalah tetangga. Aku dan dia kenal dari umur ± 1 ato 2 tahun lah.. Pokoknya masi kecil
Aku dan dia masuk playgroup yang sama. Sampai TK, dia juga masuk sekolah yang sama dengan sekolahku, satu antar jemput, wes.. pokoknya kita ini kaya anak “kembar”, dalam arti selalu melakukan bersama-sama. Bukan berarti persahabatan kita lurus-lurus aja, sering ada pertengkaran. Wah,pokoknya kalau lihat persahabatan kita itu komplitlah. Tidak hanya suka, duka pun ada.

Kami dulu begitu kompak. Jika dia bahagia, aku pun juga. Jika dia sedih, aku pun juga. Keluarganya dan keluargaku dekat. Bahkan, kuanggap keluarganya seperti keluargaku. Aku sering main ke rumahnya, dia juga sering main ke rumahku. Setiap sore aku nggak pernah nggak main sama dia dan anak-anak lain di komplek rumahku, karena di komplek rumahku banyak anak yang seumuran denganku dan dia. Kalau salah satu sakit, pasti yang satu menjenguk. Setiap hari telpon-telponan. Waaaaah, bener-bener soulmate lah. Jika ada ajang persahabatan, dan siapa yang paling kompak, aku yakin 10000% kalau kami yang menang!

Tapi, semua itu pudar ketika aku tidak se-antar jemput dengannya. Sejak aku tidak se-antar jemput, aku jadi jarang berbicara dengannya. Mungkin di sekolah saja, ataupun kadang-kadang telpon-telponan. Tapi lama kelamaan, kita merasa bosan. Kita tidak pernah sekelas lagi sejak kelas 2 SD (karena kelas 1 sampai 2 SD selalu sekelas).
Waktu kelas 3 awal, komunikasi diantara kita semakin jarang. Aku tidak pernah main diluar rumah. Aku sudah terbius dengan Gameboy, komputer, dsb. Dan di sekolah, aku punya teman selain dia, karena waktu itu aku sudah bisa mencari teman lain. Mungkin aku dengannya hanya seminggu sekali atau dua kali untuk bertemu dan itu mungkin saja hanya menyapa ‘Hai’,tidak ada pembicaraan lain,jika ada mungkin hanya saling ejek-ejekan yang waktu itu lagi jaman. Begitulah sampai kelas 3 SD.

Waktu kelas 3 SD, aku kembali dekat dengannya, saat itu ada acara 17an. Kami dengan anak-anak komplek lain satu RW dikumpulkan, dan kami menjadi paduan suara. Ya meskipun begitu, aku juga tetap jarang bermain dengannya, aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan anak-anak lain, yang aku anggap sebagai teman baruku.

Waktu kelas 4 SD, aku dan dia dan teman kami dari komplek yang sama mengisi acara 17an dengan menari. Disitu, aku kembali dekat dengan dia. Setelah 2 bulan selama latihan, kita bersama lagi. Tapi itu tak bertahan lama. Setelah beberapa minggu selepas pentas, kami kembali jarang untuk bersama-sama. Tapi komunikasi tetap terjalin, meskipun sangatlah jarang.

Waktu kelas 5 SD, ada acara natalan di RW kami, dan kami bersama teman (yang cukup dekat) berencana mengisi dengan menari. Waktu itu kami dekat kembali. Setelah sekitar 1 bulan latihan, dari hari senin sampai jumat. Kami dan teman lainnya senang, tapi ternyata acara itu batal. Batalnya acara itu membuat aku dengannya semakin jarang berkomunikasi kembali.

Waktu kelas 6 SD,aku hanya beberapa kali berkomunikasi dengannya. Karena aku punya teman baik dan dekat lainnya, dan dia pun juga begitu. Jadi sama-sama tidak mengurus. Di kelas 6 itu, aku hanya meneleponnya sekali.. waktu kelulusan, aku menanyakan apakah dia lulus atau tidak.

Dari kelas 3 sampai kelas 6 SD itu, kami pernah musuhan hebat juga. Pernah 1 – 2 bulan musuhan. Saling ejek dsb.. Aku dan dia saling menyerang. Waah, pokoknya benar-benar seperti perang lah. Sampai ada teman kami tidak bisa menghentikan peperangan kami. Tapi nanti akhirnya baik-baik kembali. Biasanya dia yang minta baikan. Entah karena apa, mau memanfaatkan aku lah atau apalah.

Sampai SMP, kita jarang komunikasi. Waktu kelas 2 SMP, kami sekelas kembali. Tapi ya gitu, karena aku punya teman lain, dia aku ‘kacangin’. Tapi dia selalu dekat aku dan teman-temanku yang lain, karena dia di kelas itu tidak punya teman. Disitu hubungan kita mulai sedikit membaik. SMSan atau ngobrol setiap hari. Sampai suatu saat, aku yang mencari masalah. Aku punya nomor HP baru, dan dia ku ganggu. Aku berpura-pura jadi cowo yang mau kenalan dengannya. Sampai akhirnya aku minta ketemuan di depan kelas kami. Nah waktu dia tau itu, betapa marahnya dia. Akhirnya kita musuhan, tapi itu nggak lama. Dia secara perlahan mulai mendekati aku kembali. Setelah itu kami pernah pergi 2x bersama untuk nonton bioskop.

Tapi suatu saat, aku merasa risih dengannya, karena kelakuannya berubah, sejak dia ingin masuk geng anak GAUL.. Waw, betapa kaget dan herannya diriku. Dia berubah menjadi seperti anak yang nakal. Pokoknya menjijikan lihat dirinya yang sok keren, kakehan gaya dsb.. Pokoke nggilani.. Hyeeeek >.< Jijay, Jijik, Najis lah pokoknya.
Dari situ aku males berteman dengannya. Dia itu berubah banget. Padahal aku sudah memberitahu kalau dia masuk di geng itu dia akan dijadikan PEMBANTU. Dia nggak peduli ya udah. Dia juga bilang nggak apa asalkan bisa jadi anak keren. Ya uda, aku juga nggak peduli dengannya.

Sampai suatu saat dia dikeluarkan dari geng itu. Nggak tau kenapa, pokoknya waktu itu dia tuh bener-bener kecewa, kaya pembantu yang baru dipecat bos nya, tanpa tau apa salahnya. Tapi feelingku berkata, orang-orang geng itu nggak seneng sama dia karena sok, trus pokoknya style nya nggak banget lah.
Pokoknya dari saat itu dia jadi tertutup dan tidak punya teman. Aku saja dimusuhinya. Ya sudah, mau gimana lagi. Teman ku yang baik ada kok, bukan dia pastinya. Aku lebih memilih teman ku yang baik, yang baru aku kenal (padahal satu SD,tp kenalnya waktu SMP), daripada mempertahankan teman lama tapi seperti dia, yang childish, tidak bisa mengerti orang, tapi dia minta perhatian dan minta dimengerti orang-orang!

Sampai sekarang hubunganku dan dia ‘dingin’. Jika bertemu nggak pernah saling nyapa. Aku juga.. Aku uda bener-bener ya apa ya, dikasi hati, minta rempelo. Aku ini ya manusia. Kesabaranku dengan anak itu cukup lah. Tapi beberapa bulan yang lalu, dia menyapaku, tapi aku kasi balasan dingin.. alias tidak ku hiraukan. Benar-benar kontras lah dari masa yang lalu. Aku nggak tau bagaimana nanti hubunganku dengannya.

Dia berbeda dengan yang dulu. Aku mau temanku yang sifatnya dulu itu, bukan yang sekarang, yang sok, gaya, dsb. Entah bagaimana kelanjutan persahabatan kami. Sampai sini, atau nanti baikan lagi dan menjadi teman kembali, atau bagaimana, aku nggak tau.

[bersambung, cerita berbeda]

0 comments:

Post a Comment